Jumat, 02 November 2012

Preman kecil

Cerita Seorang Preman Kecil


Dia bernama Emon, anak tetangga jauh. Dia masih kecil tapi kelihatan berotot, dia muda tapi sudah taktis dan mengedepankan keberanian dan otoritas. Menurutku dia calon preman, dia memiliki bibit yang subur untuk tumbuh menjulang sebagai preman. Preman yang disegani, menurutku. Ibuku pun menyetujui pendapatku.
Hal ini bukannya tanpa bukti. Dulu dia pernah menimpuk seorang gadis kecil teman bermainnya sampai gadis tersebut mengalah dan menenangkan hatinya. Layaknya sahabat dia ‘mendinginkan’ si Emon yang sudah memanas. Cocok sekali mereka sebagai pasangan cinta masa depan, sepasang suami istri beda kutub ‘panas’ dan ‘dingin’. Mereka pun akhirnya bermain kembali.
Di hari yang lain Emon pun bentrok dengan seorang temannya yang jauh lebih besar darinya tapi sayangnya si Emon kalah terlebih-lebih dia didorong oleh teman se-gank lawannya hingga dia terjungkal. Dia menangis meraung-raung karena harga dirinya  jatuh ke tanah sebagai simbol kerendahan. Hingga begitu terlukanya dia, hingga dia tetap saja mencium tanah dan menangis melolong-lolong. Kemudian kakaknya akhirnya mengangkat dia masih dalam posisi tengkurap dan tetap saja menangis.
Beberapa jam kemudian sudah kulihat dia enerjik dan memanjat pohon kersen. Dan tak lama kemudian dia sudah membuat ulah dengan menaiki seorang gadis kecil teman mainnya laksana koboi payah. Dasar preman kecil!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar